Imam Malik Bin Anas - Islam Teritorial

Islam Teritorial

Situs Tentang Islam

Wednesday, 21 February 2018

Imam Malik Bin Anas

Imam Malik Bin Anas

Imam Malik Bin Anas (93 - 179 H / 712 - 795 M)

Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, dilahirkan di Madinah, pada tahun 93 H. Beliau berasal dari Kablah Yamniah. Sejak kecil beliau telah rajin menghadiri majelis-majelis ilmu pengetahuan, sehingga sejak kecil itu pula beliau telah hafal Al-Qur'an. Tak kurang dari itu, ibundanya sendiri yang mendorong Imam Malik untuk senantiasa giat menuntut ilmu.

Pada mulanya beliau belajar dari Ribiah, seorang ulama yang sangat terkenal pada waktu itu, beliau juga memperdalam hadits kepada Ibn Syihab, disamping itu juga mempelajari ilmu fiqih dari para sahabat.

Karena ketekunan dan kecerdasannya, imam Malik tumbuh sebagai seorang ulama yang terkemuka, terutama dalam bidang ilmu hadits dan fiqih. Bukti atas hal itu, adalah ucapan Al-Dahlami ketika di berkata: 
Malik adalah orang yang paling ahli dalam bidang hadits di Madinah, yang paling mengetahui tentang keputusan-keputusan Umar, yang paling mengerti tentang pendapat-pendapat Abdullah bin Umar, Aisyah ra, dan sahabat-sahabat mereka, atas dasar itulah dia memberi fatwa. Apabila diajukan kepada suatu masalah, dia menjelaskan dan memberi fatwa.

Setelah mencapai tingkat yang tinggi dalam bidang ilmu itulah, imam Malik mulai mengajar, karena beliau merasa memiliki kewajiban untuk membagi pengetahuannya kepada orang lain yang membutuhkan.

Meski begitu, beliau dikenal sangat berhati-hati dalam memberi fatwa. Beliau tak lupa untuk terlebih dahulu meneliti hadits-hadits Rasulullah SAW, dan bermusyawarah dengan ulama lain sebelum kemudian memberikan fatwa atas suatu masalah. Diriwayatkan, bahwa beliau mempunyai tujuh puluh orang yang biasa diajak bermusyawarah untuk mengeluarkan suatu fatwa.

Imam Malik dikenal mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Beliau pernah mendengar tiga puluh satu hadits dari Ibn Syihab tanpa menulisnya. Dan ketika kepadanya diminta mengulangi seluruh hadits tersebut, tak satu pun dilupakannya. Imam Malik benar-benar mengasah ketajaman daya ingatannya, terlebih lagi karena pada masa itu masih belum terdapat suatu kumpulan hadits secara tertulis. Karenanya karunia tersebut sangat menunjang beliau dalam menuntut ilmu.

Selain itu, beliau dikenal sangat ikhlas di dalam melakukan sesuatu. Sifat itulah yang memberi kemudahan kepada beliau didalam mengkaji ilmu pengetahuan. Beliau sendiri pernah berkata:
Ilmu itu adalah cahaya, ia akan mudah dicapai dengan hati yang takwa dan khusyu.
Beliau juga menasehatkan untuk menghidari keraguan, ketika beliau berkata:
Sebaik-baik pekerjaan adalah yang jelas. Jika engkat menghadapi dua hal, dan salah satunya meragukan, maka kerjakanlah yang lebih meyakinkan menurutmu.
Karena sifat ikhlasnya yang besar itulah, maka Imam Malik tampak enggan memberi fatwa yang berhubungan dengan soal hukuman. Seorang muridnya, Ibnu Wahab, berkata:
Saya mendengar imam Malik (jika ditanya mengenai hukuman), beliau berkata: "ini adalah urusan pemerintahan".
Imam Syafi'i sendiri pernah berkata:
Ketika aku tiba di Madinah, aku bertemu dengan Imam Malik. Ketika mendengar suaraku, beliau memandang diriku beberapa saat, kemudian bertanya: "siapa namamu?" dan aku pun menjawab: "Muhammad!" dia bertanya lagi: "Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah, jauhilah maksiat karena ia akan membebanimu terus, hari demi hari.

Tak pelak, imam Malik adalah seorang ulama yang sangat terkemuka, terutama dalam ilmu hadits dan fiqih. Beliau mencapai tingkat yang sangat tinggi dalam kedua cabang ilmu tersebut. Imam Malik bahkan telah menulis kitab Al-Muwaththa', yang merupakan kitab hadits dan fiqih.

Imam Malik meninggal dunia pada usia 86 tahun. Namun demikian, mazhab Maliki tersebar luas dan dianut dibanyak bagian diseluruh penjuru dunia.

No comments:

Post a Comment